Struktur Nalar Arab-Islam Menurut Abid Al-Jabiri

M. Faishol – Dalam beberapa dekade terakhir ini tren pemikiran Islam baru telah mewarnai sejarah pemikiran Islam. Berbagai tokoh dan pemikir muslim bermunculan menyuarakan bagaimana seyogyanya kebangkitan Islam dimulai; apa sebab-sebab kemunduran Islam; bagaimana semestinya kemajuan dan pembaharuan itu dimulai. Mereka menyoal kembali warisan kebudayaan dan intelektual islam. Tampak dalam sederetan pemikir muslim kontemporer itu—untuk menyebut beberapa saja—Khalil Abdul Karim, Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zaid, Khalid Abu el-Fadhl dan sederetan pemikir muslim lainnya. Masing-masing dari mereka menawarkan gagasan atau pemikiran tentang pembaharuan Islam yang berbeda dan khas sesuai dengan disiplin keilmuan dan kecenderungannya.

Artikel ini akan menelisik secara spesifik pemikiran pembaharuan Abid Al-Jabiri. Kekhasan pemikiran Al-Jabiri terletak pada kritik epistemologi yang dilakukan terhadap bangunan keilmuan yang berkembang di tengah peradaban Arab-Islam. Kritik epistemologi menjadi sebuah ranah ilmu pengetahuan yang tidak banyak diperhatikan oleh pemikir muslim khususnya. Lebih-lebih, epistemologi sebagai bagian dari filsafat telah sejak lama dijauhkan dari peradaban keilmuan dunia Islam; mempelajari filsafat sama saja dengan menceburkan diri pada jurang kekafiran. Setidaknya, kritik epistemologi Al-Jabiri ini, menawarkan kepada dunia Islam sebuah upaya untuk merekonstruksi sebuah bangunan nalar-epistemik pengetahuan untuk mengejar ketertinggalan dan perubahan dunia Islam menuju kemajuan peradaban.

 

Muhammed Abed Al-Jabiri: Biografi Singkat

Ia adalah seorang filosof Arab kontemporer. Dilahirkan di kota Fejij, Marokko, tahun 1936. Gelar doktornya diperoleh di Universitas Muhammad V Rabat, Maroko, tahun 1970, dengan disertasi yang membahas tentang pemikiran Ibn Khaldun, yaitu “Fanatisme dan Negara: Elemen-Elemen Teoritik Khaldunian dalam Sejarah Islam” (Al-‘Ashabiyyah wad Dawlah: Ma’âlim Nadzariyyah Khaldûiyyah fit Târikhil  Islâmî). Disertasi ini baru dibukukan tahun 1971. Sejak 1976, menjadi staf pengajar pada Fakultas Sastra Universitas V Rabat, dengan memegang bidang filsafat dan pemikiran Islam. Sejak tahun 1965 – 1967, ia menjadi Pengawas dan Pengarah Pendidikan bagi Guru-guru Filsafat di tingkat menengah atas.

Al-jabiri lebih banyak menghabiskan pendidikannya dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi di tanah kelahirannya di Maroko. Pernah satu tahun (tahun 1958) pernah menempuh pendidkan filsafat di Universitas Damaskus, Siria. Al-Jabiri menguasai tiga bahasa: Arab (bahasa ibu), Perancis (baca dan tulis), dan Inggris (baca saja). Di tangan para filsof Prancis, khususnya Brunschvigg dan Bachelard, Al-Jabiri memperoleh kematangan ilmu filsafat. Pengaruh kuat dari kedua filsof ini tampak tak dapat dipisahkan dari sosok Al-Jabiri.

Sejak muda, Al-Jabiri telah menjadi seorang aktivis politik yang berideologi sosialis. Pernah aktif dalam partai Union Nationale des Forces Popularies (UNFP) yang kemudian berubah nama menjadi Union Sosialiste des Forces Popularies (USFP). Pada tahun 1975, dia menjadi anggota biro politik USFP. Di antara karya-karyanya, trilogi Naqd al-Aql al-Arabi (terbit tahun 1982), al-Turats wa al-Hadtsah (1991), al-Khithab al-Arabi al-Ma’ashir (1992), Mukhtashar Kitab al-Siyasah (1998), Kulliyat fi al-Thib (1999), Nahnu wa al-Turats, Naqd al-Aql al-Siyasi, bersama Hasan Hanafi menulis kitab Hiwar bain al-Masyriq wa al-maghrib(1990).

***
ETC