Manajemen berbasis sekolah Strategi alternatif dalam persaingan mutu

Busthomi Ibrohim – Kesadaran tentang pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan kemungkinan yang lebih baik di masa dating, telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan. Pendidikan sebagai salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia pada intinya bertujuan untuk memanusiakan manusia, mendewasakan manusia, merubah perilaku, membudayakan manusia dan meningkatkan kualitas menjadi lebih baik.

            Pada kenyataannya pendidikan bukanlah suatu upaya yang sederhana, melainkan suatu kegiatan yang dinamis dan penuh tantangan. Pendidikan akan selalu berubah seiring dengan perubahan zaman, setiap saat pendidikan selalu menjadi fokus utama perhatian bahkan tidak jarang menjadi sasaran ketidakpuasan karena pendidikan menyangkut kepentingan semua orang, bukan hanya menyangkut investasi dan kondisi di masa yang akan dating, melainkan juga menyangkut kondisi dan sasaran kehidupan saat ini. Itulah sebabnya pendidikan merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan, memiliki sistem yang kompleks dan dinamis.

            Investigasi berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia oleh World Bank pada tahun 1997 merekomendasikan beberapa strategi yang perlu dicermati, yaitu: kurikulum yang bersifat inklusif, proses belajar mengajar yang efektif, lingkungan sekolah yang mendukung, sumber daya yang berasas pemerataan, standardisasi hal-hal tertentu, monitoring, evaluasi dan tes. Strategi tersebut harus menyatu ke dalam lingkup fungsi pengelolaan sekolah, yaitu: manajemen/organisasi kepemimpinan, yakni dengan menempatkan kepala sekolah sebagai manajer instruksional yang kuat, proses belajar mengajar, sumber  daya manusia, adminsitrasi sekolah dan mengoptimalkan daya dukung masyarakat. Untuk itu diperlukan struktur organisasi sekolah yang mengakomodir semua kepentingan pendidikan.

            Dalam menyikapi rekomendasi tersebut dan sejalan dengan semangat “Declaration of Sinegal” yang didengungkan oleh UNESCO lewat beberapa pakar pendidikan dunia, maka dunia pendidikan Indonesia dihadapkan pada keharusan untuk menyesuaikan diri dengan setting pendidikan global di era desentralisasi atau otonomi yang telah menjadi fenomena global sebagaimana gagasan John Naisbitt yang memunculkan isu global paradox. Hal ini dirasa perlu, jika Indonesia tidak ingin lebih tertinggal dari negara-negara lain. Adalah suatu keberuntungan tersendiri bagi Indonesia untuk merubah dan menentukan strategi alternatif pendidikan di era reformasi dewasa ini. Strategi alternatif yang dimaksud ialah“School Based Management” atau yang lebih familiar dengan istilah “Manajemen Berbasis Sekolah.”

            Manajemen berbasis sekolah di negara-negara lain telah terbukti keefektifannya dalam meningkatkan kualitas sekolah. Menurut Suyatno banyak penelitian yang secara konklusif mendukung rasional efektivitas penggunaan manajemen berbasis sekolah, para peneliti tersebut antara lain Amunson (1988), Burns dan Howers (1989), David dan Peterson (1984), English (1989), Levin dan Eubank (1989), Lindelow dan Heynderickx (1989), malen, Ogawa, dan Kranz (1990), Merbuerger (1985), Majkowski and Fleming (1989), Peterson (1991), White (1989) dan laion sebagainya.

            Berdasaran paparan di atas, dapatlah dikemukakan di sini bahwa permasalahan dalam menghadapi tantangan pendidikan dewasa ini adalah sangat kompleks. Oleh karena itu, makalah ini hanya akam menyoroti permasalahan struktur manajemen sekolah agar lebih mampu mengambil inisiatif dalam pengambilan keputusan yang tepat, cepat dan efektif sesuai dengan tuntutan zaman.

            Sejalan dengan identifikasi dan pembatasan masalah yang ada, maka dirumuskanlah permasalahn yang ada sebagai berikut: Bagaimana sebenarnya konsep manajemen bernasis sekolah? Bagaimana pola dan strategi manajemen berbasis sekolah? Bagaimana fungsi sekolah, kelembagaannya dan struktur dewan sekolah?

KONSEP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Manajemen berbasis sekolah merupakan gagasan yang menempatkan kewenangan pengelolaan sekolah dalam suatu keutuhan entitas sistem. Menurut Finn bahwa manajemen berbasis sekolah dan sekolah yang efektif dapat dicermati sebagai berikut:

“The improvements in student achievement are most likely to be gained in schools which are relatively autonomous, process a capacity to resolve their problems, and in which strong leadership, particularly by the principal, is a characteristic.”

Selaras dengan pendapat di atas adalah pendapat yang dikemukakan oleh Duignan yang dikutip oleh Dimmock Clive:

“A curriculum, client-based approach, with the focus on school-based decision making, allowing schools control over resources by which to fine-tune curricula for the benefit of students’.

 

            Berbeda dengan Chapman yang merlihat pokok permasalahan terhadap peningkatan kualitas sekolah dari sudut ekonomi dan politik dengan argumentasinya:

“In many countries the recent educational debate has been conducted in a context of alarm regarding the state of the economy and national competitiveness and that, in some countries education has received much of the blame for the nation’s relatively poor economic performance.”

            Untuk membangun gambaran tentang manajemen berbasis sekolah dan sekolah yang efektif, Brown menyebutkan beberapa unsur karakteristik yang harus dimiliki:

“1. Autonomy, flexibility and responsiveness

2. Planning by the principal and school community

3. Adoption of new roles by the principal

4. A participatory school environment

5. Collaboration and collegiality among staff

6. A heightened sense of personal efficacy for principals and teachers.”

 

            Selain beberapa pengertian di atas, masih terdapat beberapa definisi tentang manajemen berbasis sekolah yang dapat dijadikan acuan, antara lain:

“School based management can be viewed conceptually as a formal alternation of government structures, as a form of decentralization that identifies the individual school as the primary unit of improvement and relies on the redistribution of decision-making authority as the primary means through which improvement might be stimulated and sustained.”  

 

            Definisi lain dari Candoli yang mengatakan:

“School based management is way for forcing individual school to take responsibility for what happens to children under their jurisdiction and attending their school. The concept suggests that, when individual schools are changed with the total development of educational programmes aimed at serving the needs of the children in attendance at the particular school, the school personal will develop more cogent programmes because they know the students and their needs.”

***
ETC