Teologi mustad’afin di indonesia: Kajian atas teologi muhammadiyah

Shokhi Huda – Misi Islam yang strategis, sebagaimana dikutip oleh Azyumardi Azra dari pandangan Nurcholis Madjid, dijelaskan dalam al-Qur’an. Menurut Madjid, “al-Qur’an menunjukkan bahwa risalah Islam –disebabkan oleh universalitasnya—adalah selalu sesuai dengan lingkungan kultural apapun.” Asumsi tentang universalitas dan kesesuaian Islam ini selanjutnya akan teruji melalui dimensi-dimensi ajarannya. Sebagian dari dimensi-dimensi ini adalah teologi.

Teologi merupakan landasan yang paling mendasar untuk bertindak bagi seseorang, khususnya dalam spiritualitas keberagamaan. Dalam hal ini Kuntowijoyo menjelaskan bahwa semua perbuatan manusia pasti dipengaruhi oleh pemikiran. Manusia tidak dapat lepas dari dunia pemikiran. Secara sadar atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari pun seseorang tidak lepas dari ide. Kesalehan spiritual dan atau sosial seseorang atau sekelompok orang pun tidak lepas dari ide teologi agamanya. Ini adalah asumsi teologis.

Kaitannya dengan hal tersebut, di kalangan modernis Indonesiaterdapat perkembangan paradigma pemikiran teologis. Paradigma berpikir seperti ini sering didasarkan pada catatan sejarah dari organisasi massa yang diikutinya, yakni Muhammadiyah. Sumbernya adalah teologi al-Ma’un atau al-Ma’unisme (meminjam istilah A. Syafii Maarif).

Teologi al-Ma’un –dalam payung Teologi Islam—yang digagas dan dikembangkan oleh K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dipandang oleh warga Muhammadiyah dan dinilai oleh sebagian peneliti, seperti Deliar Noer dan Achmad Jainuri, berhasil membawa warga gerakan modern ini gigih dan bersemangat untuk membebaskan mustad}’afi>n dari ketertindasannya. Wujud konkret dari gerakan mereka adalah pendirian beberapa panti asuhan, rumah sakit, dan lembaga pendidikan. Dengan demikian, pada dataran konsep, teologi Mustad}’afi>n sesungguhnya merupakan istilah baru, bukan konsep baru, yang dikembangkan dari sumbernya, yakni teologi al-Ma>’u>n sebagai identitas yang diambil dari spirit Q.S. al-Ma>’u>n [107].

Teologi Mustad}’afi>n menarik untuk dikaji kaitannya dengan konteks dilektika historis perkembangan aliran-aliran Islam di Indonesia dan pemaknaan konsep teologis tersebut pada wilayah konkret dan praksis. Meskipun dalam kajian teologi Islam sudah terdapat tipe-tipe kontemporer teologi pembebasan versi Asghar Ali Engineer (Pakistan), Farid Esack (Afrika Selatan), dan Hassan Hanafi (Mesir) tetapi kajian teologi Mustad}’afi>nini menarik dalam konteks khas IslamIndonesia.


***
Oleh:
Sokhi Huda
Institut Keislaman K.H. Hasyim Asy’ari (IKAHA) Jombang
Email: sokhihuda81@gmail.com